Pierre Gasly menciptakan kejutan besar di sesi kualifikasi F1 GP Italia 2026. Pembalap Alpine itu merebut pole position pertama sepanjang kariernya setelah mencatat waktu 1 menit 21,786 detik di Monza, Sabtu, 5 September 2026. Gasly mengalahkan George Russell dari Mercedes dengan selisih hanya 0,060 detik, sementara Oscar Piastri dari McLaren berada di posisi ketiga sebelum terkena penalti grid. Hasil ini terasa semakin istimewa karena Gasly kembali mencuri perhatian di sirkuit yang pernah memberinya kemenangan Formula 1 pertama pada 2020.
Pole tersebut juga menjadi yang pertama bagi Alpine sejak Renault berganti identitas pada 2021. Setelah melalui musim yang tidak selalu mudah, Gasly tiba-tiba muncul sebagai pembalap tercepat di salah satu sirkuit paling ikonik Formula 1. Ia tampil kompetitif sejak Q1, menjaga ritme di Q2, lalu menghasilkan lap terbaiknya pada percobaan terakhir Q3. Dengan balapan berlangsung Minggu, 6 September, Alpine kini mendapatkan peluang langka untuk mengejar kemenangan di Monza.
Gasly Curi Pole di Detik Terakhir
Kualifikasi berlangsung sangat ketat sejak awal. Gasly sudah menunjukkan kecepatan sejak Q1 dan bahkan sempat berada di depan para rival yang secara normal memiliki mobil lebih kompetitif. Alpine terlihat jauh lebih nyaman di lintasan lurus cepat Monza, sementara pembaruan mobil serta tenaga Mercedes pada A526 membantu Gasly mempertahankan performa sepanjang sesi.
Pada awal Q3, George Russell berada dalam posisi kuat untuk merebut pole. Pembalap Mercedes itu mencatat waktu cepat dan kemudian memperbaikinya lagi pada percobaan terakhir. Namun, Gasly masih memiliki satu lap pamungkas. Ia menekan sejak sektor pertama dan akhirnya melintasi garis finis dengan catatan 1:21,786. Waktu tersebut cukup untuk menggeser Russell dengan margin enam per seratus detik.
Oscar Piastri awalnya berada di posisi ketiga dengan 1:21,966. Charles Leclerc dan Lewis Hamilton menyusul di posisi keempat dan kelima, sedangkan Max Verstappen berada di urutan keenam. Kimi Antonelli berada di posisi ketujuh sebelum menjalani penalti mesin. Franco Colapinto turut membawa Alpine ke Q3 dan menempatkan mobil kedua tim itu di posisi kedelapan pada hasil kualifikasi awal.
Pole Pertama Setelah Sembilan Tahun Mengejar
Bagi Gasly, hasil ini lebih dari sekadar posisi start pertama. Ia telah menjalani hampir sembilan tahun di Formula 1 tanpa pernah meraih pole. Karena itu, keberhasilan di Monza memiliki nilai emosional yang sangat besar. Setelah keluar dari mobil, Gasly langsung merayakan bersama kru Alpine dan menyebut momen tersebut sangat spesial.
Gasly juga menyoroti betapa nyaman dirinya dengan mobil sejak lap pertama Q1. Ia terus memangkas waktu dari satu sesi ke sesi berikutnya dan akhirnya mampu menyatukan seluruh elemen pada percobaan terakhir. Menurutnya, lap penentu itu terasa sangat baik sejak keluar dari tikungan pertama hingga garis finis.
Monza memang memiliki tempat khusus dalam karier Gasly. Pada 2020, saat masih membela AlphaTauri, ia meraih kemenangan Formula 1 pertamanya di sirkuit yang sama. Enam tahun kemudian, ia kembali menciptakan kejutan dengan merebut pole pertama sepanjang karier. Kombinasi dua pencapaian tersebut membuat Monza menjadi salah satu lintasan paling bersejarah bagi pembalap Prancis tersebut.
Alpine Tiba-Tiba Jadi Ancaman Serius
Kecepatan Alpine juga mengejutkan banyak pihak. Sebelum kualifikasi, Mercedes, Ferrari, McLaren, dan Red Bull lebih banyak disebut sebagai kandidat utama pole. Namun, Gasly mampu menjaga kecepatan sejak awal dan memaksa tim-tim besar mengubah perkiraan mereka. Bahkan Russell mengakui Alpine tampil jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan.
Managing Director Alpine, Steve Nielsen, langsung menaikkan target tim setelah pole Gasly. Alpine tidak ingin sekadar menikmati posisi start pertama. Nielsen menegaskan tim akan mencoba memenangkan balapan. Pernyataan tersebut menunjukkan keyakinan bahwa kecepatan mobil bukan sekadar kebetulan satu lap.
Namun, tugas Gasly pada hari balapan tetap sangat berat. Monza memiliki banyak zona slipstream dan peluang menyalip. Karena itu, pole tidak otomatis memberikan kontrol penuh seperti di sirkuit dengan karakter lebih sempit. Russell bahkan menilai Monza termasuk lintasan yang membuat posisi start pertama sedikit kurang menentukan dibanding beberapa trek lain.
Gasly harus menjaga start, mengelola ban, dan menghindari kehilangan posisi di trek lurus panjang. Dengan Mercedes, Ferrari, Red Bull, dan McLaren berada di belakang, satu kesalahan kecil bisa langsung mengubah jalannya balapan.
Penalti Piastri Ubah Susunan Grid Depan
Kualifikasi GP Italia juga menghasilkan perubahan penting setelah sesi selesai. Oscar Piastri, yang awalnya menempati posisi ketiga, menerima penalti turun tiga posisi grid setelah dianggap menghalangi Liam Lawson. Akibatnya, Piastri turun ke posisi keenam untuk start balapan.
Perubahan itu menguntungkan Ferrari di depan pendukung sendiri. Charles Leclerc naik ke posisi ketiga, sementara Lewis Hamilton mendapatkan posisi keempat. Max Verstappen juga naik satu tingkat ke posisi kelima. Dengan demikian, Gasly dan Russell tetap menempati baris terdepan, tetapi formasi di belakang mereka berubah cukup signifikan.
Situasi tersebut membuat start semakin menarik. Ferrari kini memiliki dua mobil di antara para pembalap terdepan, sedangkan Piastri harus mengejar dari posisi keenam. Lando Norris, yang memenangkan dua balapan terakhir, juga tidak mendapatkan posisi ideal setelah hanya berada di urutan kesembilan pada kualifikasi sebelum efek penalti lain diperhitungkan.
Kimi Antonelli juga akan memulai balapan dari belakang akibat penalti power unit. Kondisi ini mengubah peta persaingan Mercedes karena Russell menjadi satu-satunya mobil tim tersebut yang berada di barisan terdepan.
Russell Jadi Ancaman Terbesar Gasly
George Russell tetap menjadi ancaman utama untuk kemenangan. Ia hanya kalah 0,060 detik dari Gasly dan menunjukkan kecepatan kuat sepanjang akhir pekan. Mercedes juga tampil kompetitif pada latihan terakhir, ketika Russell memimpin FP3 di depan Hamilton dan Verstappen.
Russell mengakui kecewa gagal merebut pole, tetapi ia juga memberikan pujian besar kepada Gasly. Menurutnya, Alpine benar-benar tampil cepat sejak Q1. Ia bahkan mengatakan timnya harus kembali melihat data latihan karena sebelumnya tidak menganggap Alpine sebagai ancaman utama.
Balapan di Monza juga memberi Russell peluang besar untuk menyerang. Karakter lintasan dengan kecepatan tinggi, zona DRS panjang, dan pengereman keras membuat duel roda ke roda lebih mungkin terjadi. Karena itu, Gasly tidak bisa hanya mengandalkan posisi start. Ia membutuhkan pace balapan yang cukup kuat untuk menjaga Russell, Leclerc, Hamilton, Verstappen, dan Piastri tetap di belakang.
Bagi Russell, hasil besar di Monza juga penting dalam perburuan gelar. Ia saat ini berada di posisi kedua klasemen pembalap dan tertinggal 59 poin dari rekan setimnya, Kimi Antonelli. Dengan Antonelli terkena penalti dan harus start dari belakang, Monza menjadi kesempatan besar bagi Russell untuk memangkas jarak.
Dari Drama Monaco ke Kejutan Besar di Monza
Pole Gasly terasa semakin menarik karena datang tidak lama setelah ia kehilangan podium GP Monaco akibat keputusan banding FIA. Hasil di Monaco sempat berubah beberapa kali sebelum Gasly akhirnya turun dari posisi ketiga ke posisi ketujuh. Kini, hanya beberapa hari setelah kabar mengecewakan tersebut, ia membalasnya dengan salah satu pencapaian terbaik dalam kariernya.
Momentum tersebut menunjukkan betapa cepat situasi bisa berubah di Formula 1. Gasly datang ke Monza bukan sebagai favorit utama, tetapi justru berhasil mengalahkan deretan pembalap dari Mercedes, McLaren, Ferrari, dan Red Bull. Alpine pun mendapatkan kesempatan terbesar mereka musim ini untuk meraih kemenangan.
Namun, pole position hanyalah separuh pekerjaan. Balapan GP Italia akan menjadi ujian sebenarnya bagi Gasly dan Alpine. Mereka harus mempertahankan kecepatan selama jarak penuh, mengelola strategi pit stop, serta menjaga mobil tetap kompetitif di tengah ancaman dari tim-tim besar.
Jika Gasly mampu mengubah pole menjadi kemenangan, Monza sekali lagi akan menjadi tempat yang tidak terlupakan. Ia sudah pernah menang di sini pada 2020 dan sekarang meraih pole pertamanya di sirkuit yang sama. Sebaliknya, jika rival berhasil menyalipnya, hasil kualifikasi tetap akan dikenang sebagai salah satu kejutan terbesar musim 2026.
Untuk sementara, satu hal sudah pasti: Pierre Gasly menjadi pembalap tercepat pada kualifikasi GP Italia 2026. Dengan waktu 1:21,786 dan margin hanya 0,060 detik atas Russell, pembalap Alpine itu berhasil menciptakan momen yang tidak banyak diprediksi sebelum akhir pekan dimulai.





