Satwiksairaj Rankireddy dan Chirag Shetty kembali membuktikan bahwa China Masters 2026 menjadi salah satu turnamen terbaik mereka. Ganda putra India tersebut memastikan tiket final setelah mengalahkan pasangan Malaysia, Nur Mohd Azriyn Ayub/Tan Wee Kiong, dalam pertandingan tiga gim di Shenzhen Arena, Sabtu, 5 September 2026. Satwik–Chirag menang 21-16, 18-21, 21-11 setelah bertarung selama sekitar 66 menit. Hasil tersebut membawa mereka ke final China Masters untuk ketiga kalinya dan membuka peluang besar untuk akhirnya merebut gelar yang selama ini selalu terlepas.
Kemenangan ini merupakan perkembangan baru setelah Satwik–Chirag sehari sebelumnya menyingkirkan Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen pada perempat final. Mereka kini telah melewati empat semifinal China Masters secara beruntun dan berhasil mengubah tiga di antaranya menjadi tiket final. Satwik–Chirag sebelumnya menjadi runner-up pada 2023 dan 2025, sehingga partai puncak tahun ini memberikan kesempatan lain untuk mengakhiri penantian mereka di turnamen BWF World Tour Super 750 tersebut.
Tertinggal 0-5, Satwik–Chirag Langsung Membalas
Satwik dan Chirag tidak mendapatkan awal pertandingan yang ideal. Nur Mohd Azriyn dan Tan Wee Kiong langsung bermain agresif dan membuka keunggulan 5-0 pada gim pertama. Pasangan Malaysia berusaha menekan sejak servis dan tidak memberikan kesempatan kepada Satwik untuk membangun serangan dari belakang lapangan. Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama. Satwik–Chirag merespons dengan tujuh poin beruntun dan membalikkan keadaan menjadi 7-5. Salah satu momen penting dalam periode tersebut datang melalui reli panjang 34 pukulan yang akhirnya dimenangkan pasangan India.
Setelah mendapatkan momentum, Satwik–Chirag mulai mengontrol pertandingan. Mereka unggul 11-9 saat interval dan kemudian memperlebar jarak menjadi 17-12. Smash menyilang Satwik beberapa kali menembus pertahanan Malaysia, sementara Chirag bergerak agresif di depan net untuk memotong pengembalian lawan. Nur dan Tan tetap memberikan perlawanan. Saat skor 18-15, kedua pasangan bahkan memainkan reli 54 pukulan sebelum Tan akhirnya mengirim shuttlecock keluar. Satwik–Chirag kemudian memperoleh lima game point dan menutup gim pertama 21-16 pada kesempatan kedua.
Gim pembuka menunjukkan kemampuan pasangan India mengubah situasi dengan cepat. Mereka tidak panik ketika tertinggal lima poin dan justru meningkatkan intensitas permainan. Respons tersebut menjadi penting karena pasangan Malaysia datang dengan kepercayaan diri tinggi dan berusaha memanfaatkan tekanan yang berada di pundak unggulan keempat.
Malaysia Bangkit dan Paksa Pertandingan Tiga Gim
Pola serupa kembali muncul pada gim kedua. Nur/Tan langsung unggul 4-0 sebelum Satwik–Chirag mengejar hingga 5-5. Pasangan India bahkan mampu berbalik memimpin 10-8. Namun, beberapa kesalahan di area depan net memberikan kesempatan kepada Malaysia untuk mengambil kembali momentum. Nur/Tan masuk interval dengan keunggulan tipis 11-10.
Selepas interval, pertandingan semakin ketat. Kedua pasangan saling bertukar serangan dan tidak mampu membangun keunggulan besar. Satwik menggunakan smash keras untuk menyerang tubuh lawan, sedangkan Chirag mencoba mempercepat permainan dari depan. Di sisi lain, pengalaman Tan Wee Kiong membantu Malaysia menjaga ketenangan ketika skor mulai rapat. Pertandingan akhirnya mencapai 18-18 dan tiga poin berikutnya menjadi penentu.
Nur/Tan memenangkan ketiga poin tersebut untuk merebut gim kedua 21-18. Satwik–Chirag kembali kehilangan gim kedua setelah sebelumnya mengalami pola serupa pada beberapa pertandingan sepanjang China Masters. Bahkan Satwik mengakui bahwa mereka beberapa kali bermain nyaman pada gim pertama sebelum kehilangan kontrol ketika skor memasuki 15-15 atau 16-16 pada gim berikutnya.
Namun, pasangan India tidak membiarkan pola tersebut menghancurkan pertandingan. Mereka segera mengubah pendekatan untuk gim penentuan dan kembali memainkan gaya agresif yang menjadi kekuatan utama mereka.
Gim Ketiga Berubah Menjadi Dominasi India
Berbeda dari dua gim sebelumnya, Satwik–Chirag tidak memberikan kesempatan kepada pasangan Malaysia untuk mendapatkan start cepat pada gim ketiga. Mereka langsung unggul 5-2 dan meningkatkan tekanan sejak awal. Chirag semakin efektif menemukan ruang kosong, sementara Satwik terus menyerang dengan smash keras dari belakang lapangan. Malaysia mulai kesulitan mempertahankan intensitas setelah dua gim yang sangat menguras tenaga.
Satwik–Chirag kemudian memperlebar keunggulan menjadi 11-4 ketika memasuki interval. Situasi tersebut membuat Nur/Tan harus mengambil risiko lebih besar untuk mengejar. Namun, strategi itu justru membuka lebih banyak ruang bagi pasangan India. Satwik menghasilkan body smash untuk membawa skor menjadi 13-6, sedangkan Chirag terus menjaga tekanan di depan net.
Dominasi semakin terlihat pada fase akhir. Satwik–Chirag mendapatkan 11 match point setelah pukulan Chirag jatuh tepat di garis belakang. Malaysia masih mampu menyelamatkan dua kesempatan pertama, tetapi Chirag menyelesaikan pertandingan pada match point ketiga. Gim terakhir berakhir 21-11 dan memastikan pasangan India kembali ke final China Masters.
Kemenangan tersebut juga mempertahankan rekor sempurna Satwik–Chirag melawan Nur/Tan. Sebelum semifinal ini, pasangan India sudah dua kali mengalahkan mereka, yakni pada Thailand Open 2024 dan Malaysia Open 2025. Rekor pertemuan mereka kini menjadi 3-0 untuk Satwik–Chirag.
Final Ketiga, tetapi Gelar China Masters Masih Belum Datang
Satwik–Chirag memiliki catatan yang sangat konsisten di Shenzhen. Mereka mencapai final pada 2023 dan kembali menjadi runner-up pada 2025. Pada 2024, perjalanan mereka berhenti di semifinal. Dengan demikian, edisi 2026 menjadi final ketiga mereka dalam empat tahun terakhir sekaligus semifinal keempat secara berturut-turut.
Namun, ada satu hal yang masih hilang dari catatan tersebut: gelar juara. Dua kesempatan sebelumnya selalu berakhir dengan kekalahan pada partai puncak. Karena itu, keberhasilan mencapai final tahun ini membawa tantangan yang lebih besar daripada sekadar mempertahankan konsistensi. Satwik dan Chirag sekarang memiliki kesempatan untuk menghapus salah satu catatan yang masih mengganjal dalam perjalanan mereka di BWF World Tour.
Shenzhen juga terasa semakin spesial karena pasangan India baru kembali setelah periode sulit akibat masalah cedera Satwik. Chirag mengatakan tiga bulan terakhir tidak mudah bagi keduanya. Bisa kembali bermain di final hanya pada turnamen kedua setelah masa istirahat memberikan kepuasan tersendiri.
China Masters juga menjadi tempat ideal untuk mengembalikan kepercayaan diri. Tiga pertandingan terakhir mereka berlangsung tiga gim, sehingga Satwik–Chirag mendapatkan banyak situasi kompetitif sebelum menghadapi target besar berikutnya.
He Ji Ting–Ren Xiang Yu Menunggu di Partai Final
Tantangan terakhir datang dari pasangan tuan rumah He Ji Ting/Ren Xiang Yu. Ganda putra China tersebut mengalahkan pasangan Malaysia lainnya, Tee Kai Wun/Yap Roy King, melalui pertandingan tiga gim 23-21, 17-21, 21-17 selama 64 menit. Hasil itu sekaligus menggagalkan peluang terciptanya final sesama Malaysia di Shenzhen.
Pertemuan dengan He/Ren akan memberikan ujian berbeda. Pasangan China memiliki keuntungan bermain di depan publik sendiri dan juga datang setelah melewati semifinal yang ketat. Satwik–Chirag harus menjaga kualitas servis dan pengembalian sekaligus mengurangi periode kehilangan konsentrasi yang beberapa kali muncul pada gim kedua sepanjang pekan ini.
Satwik sendiri tidak ingin terlalu jauh memikirkan pertandingan sebelum kondisi fisiknya pulih. Setelah semifinal, ia menegaskan bahwa fokus pertama mereka adalah recovery. Setelah itu, keduanya akan melihat kondisi tubuh dan memberikan kemampuan maksimal pada pertandingan terakhir.
Final tersebut juga menjadi kesempatan bagi Satwik–Chirag untuk meraih gelar BWF World Tour kedua musim 2026. Mereka sebelumnya menjuarai Singapore Open pada Mei. Jika mampu menang di Shenzhen, pasangan India akan memasuki Asian Games dengan momentum yang jauh lebih kuat.
Momentum Besar Menjelang Asian Games 2026
China Masters datang pada waktu penting bagi Satwik–Chirag. Asian Games Aichi-Nagoya 2026 akan dimulai pada 19 September, sehingga turnamen di Shenzhen menjadi salah satu kesempatan terakhir untuk menguji kondisi mereka dalam pertandingan level tinggi. Setelah Satwik mengalami masalah cedera dan keduanya harus menjalani masa istirahat, kebutuhan mendapatkan kembali ritme pertandingan menjadi sangat penting.
Hasil di China Masters menunjukkan proses tersebut berjalan positif. Mereka telah menghadapi pertandingan panjang, tekanan pada poin kritis, kehilangan gim, dan situasi tertinggal. Hampir semua kondisi yang dibutuhkan untuk menguji kesiapan kompetitif sudah mereka dapatkan. Satwik bahkan menilai pertandingan-pertandingan ketat seperti ini merupakan sesuatu yang sulit direplikasi hanya melalui latihan.
Karena itu, keberhasilan mencapai final memiliki nilai lebih besar daripada sekadar mengejar trofi. Satwik–Chirag mulai menemukan kembali kepercayaan diri setelah periode sulit. Mereka juga membuktikan bahwa kemampuan untuk bangkit masih menjadi salah satu kekuatan terbesar mereka.
Sekarang hanya satu pertandingan tersisa. Satwik–Chirag akan menghadapi He Ji Ting/Ren Xiang Yu untuk memperebutkan gelar China Masters 2026. Setelah dua kali menjadi runner-up dan empat tahun berturut-turut mencapai semifinal, kesempatan untuk akhirnya menjadi juara kembali terbuka.
Kemenangan atas Nur/Tan membuat mereka hanya berjarak satu langkah dari gelar yang selama ini selalu lolos dari genggaman. Jika mampu mengalahkan pasangan tuan rumah pada final, Satwik–Chirag tidak hanya akan membawa pulang gelar kedua musim ini. Mereka juga akan tiba di Asian Games 2026 dengan salah satu modal terbaik yang bisa mereka dapatkan: kemenangan di turnamen Super 750 dan kepercayaan diri bahwa permainan terbaik mereka mulai kembali.





