China Masters 2026 resmi dimulai di Shenzhen Arena, China, Selasa, 1 September 2026. Persaingan tunggal putri langsung menjadi sorotan setelah dua pemain papan atas tuan rumah, Chen Yufei dan Han Yue, memutuskan mundur menjelang turnamen. Keputusan tersebut mengubah peta persaingan dan membuat jalan An Se-young menuju gelar semakin terbuka. Pebulu tangkis Korea Selatan itu datang sebagai pemain nomor satu dunia sekaligus unggulan pertama. Ia bahkan langsung menunjukkan dominasinya pada pertandingan pembuka dengan menghancurkan Lin Hsiang-ti dari Chinese Taipei 21-11, 21-3 hanya dalam 33 menit.
An Se-young sekarang berpeluang melangkah jauh tanpa menghadapi pemain unggulan hingga semifinal. Sebelumnya, Han Yue berpotensi menjadi lawannya pada perempat final. Sementara itu, Chen Yufei menjadi salah satu ancaman terbesar jika keduanya bertemu pada fase akhir. Mundurnya dua pemain tersebut membuat bagan tunggal putri berubah secara signifikan. Namun, An tetap harus menghadapi sejumlah nama kuat. Akane Yamaguchi, Wang Zhiyi, dan pemain elite lainnya masih mempunyai peluang menghentikan langkah sang pemain Korea Selatan.
An Se-young Langsung Dominan di China Masters 2026
An Se-young tidak membutuhkan waktu lama untuk memperlihatkan kualitasnya. Pada babak 32 besar, pemain berusia 24 tahun itu menghadapi Lin Hsiang-ti yang menempati peringkat 17 dunia. Secara ranking, pertandingan tersebut seharusnya mampu memberikan ujian cukup serius. Namun, An justru mengendalikan laga sejak awal.
Gim pertama masih menghadirkan beberapa reli kompetitif. Meski demikian, An mampu menjaga tempo dan memaksa Lin terus bergerak ke berbagai sisi lapangan. Ia kemudian menutup gim pembuka dengan skor 21-11.
Dominasi semakin terlihat pada gim kedua. An hanya memberikan tiga poin kepada lawannya sebelum menyelesaikan pertandingan 21-3. Total pertandingan berlangsung selama 33 menit. Kemenangan tersebut memastikan tempat An di babak 16 besar sekaligus menjaga peluangnya meraih gelar China Masters untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa kondisi An tetap kompetitif setelah menjalani jadwal padat. Ia baru menyelesaikan Kejuaraan Dunia sebelum berangkat menuju Shenzhen. Oleh karena itu, kemampuan menyelesaikan pertandingan dalam dua gim memberikan keuntungan besar untuk menjaga energi.
An tidak perlu menjalani reli panjang selama tiga gim pada pertandingan pertamanya. Ia bisa segera mengalihkan fokus menuju babak berikutnya.
Chen Yufei dan Han Yue Mundur Menjelang Turnamen
Perubahan terbesar pada China Masters 2026 terjadi bahkan sebelum pertandingan pertama berlangsung. China kehilangan beberapa pemain penting setelah mereka menarik diri dari turnamen.
Dua nama terbesar berasal dari tunggal putri. Chen Yufei yang berada di peringkat empat dunia dan Han Yue di peringkat lima dunia memutuskan tidak bermain. Selain mereka, pasangan ganda putra Liang Weikeng/Wang Chang serta pasangan ganda putri Liu Shengshu/Tan Ning juga mundur.
Absennya Chen dan Han memberikan dampak langsung terhadap persaingan An Se-young.
Sebelum perubahan bagan, An berpotensi menghadapi Han pada perempat final. Pertandingan tersebut tentu menjadi salah satu ujian terberatnya sebelum semifinal. Namun, mundurnya Han membuat An tidak dijadwalkan bertemu pemain unggulan hingga semifinal.
Chen juga menjadi ancaman penting dari bagian lain bagan. Jika keduanya terus menang, An berpotensi bertemu Chen pada fase akhir turnamen.
Kini salah satu rival terkuatnya tidak berada dalam kompetisi.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti gelar otomatis menjadi milik An. Tunggal putri masih memiliki beberapa pemain elite yang mampu memberikan perlawanan. Perubahan ini hanya membuat jalur menuju fase akhir menjadi lebih menguntungkan bagi unggulan pertama.
Cedera dan Jadwal Padat Jadi Masalah Chen Yufei
Keputusan Chen Yufei untuk mundur memiliki latar belakang yang cukup jelas. Pemain China tersebut mengalami masalah fisik dalam beberapa bulan terakhir.
Pada Japan Open bulan Juli, Chen harus menghentikan pertandingan akibat cedera paha. Ia kemudian tetap tampil pada China Open dan Kejuaraan Dunia dengan kondisi paha yang membutuhkan perhatian. Jadwal kompetisi yang padat akhirnya membuat tim memilih tidak memaksakan dirinya tampil lagi di Shenzhen. Laporan media China yang dikutip media Korea menyebut cedera sebagai penyebab utama keputusan tersebut.
Pilihan itu juga masuk akal jika melihat agenda berikutnya.
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 sudah semakin dekat. Memaksakan Chen mengikuti turnamen Super 750 ketika kondisi tubuh belum pulih sepenuhnya dapat meningkatkan risiko cedera. China tentu membutuhkan pemain terbaiknya dalam kondisi optimal ketika Asian Games dimulai.
Situasi Han Yue sedikit berbeda karena penyebab spesifik pengunduran dirinya belum diumumkan. Namun, kondisi fisiknya juga menjadi perhatian.
Setelah tersingkir pada babak pertama Kejuaraan Dunia, Han mengakui bahwa kondisi tubuhnya sedang tidak ideal. Karena itu, keputusan untuk mengambil waktu pemulihan sebelum agenda berikutnya tidak terlalu mengejutkan.
Dengan dua pemain tersebut absen, beban tunggal putri China sekarang semakin besar berada pada Wang Zhiyi.
An Se-young Memilih Tetap Bertanding meski Jadwal Padat
Menariknya, An Se-young sebenarnya menghadapi masalah yang hampir sama dengan para rivalnya.
Ia baru menjalani Kejuaraan Dunia dan sebelumnya juga sempat menghadapi masalah kebugaran. Jadwal menuju Asian Games pun tidak memberikan banyak waktu untuk pemulihan.
Karena alasan tersebut, sempat muncul perkiraan bahwa An mungkin ikut melewatkan China Masters.
Namun, ia mengambil keputusan berbeda.
An tetap datang ke Shenzhen untuk menjaga ritme pertandingan menjelang Asian Games. Keputusan itu membuat strateginya berbeda dengan Chen Yufei dan Han Yue yang memilih memprioritaskan pemulihan.
Pilihan tersebut tentu membawa keuntungan sekaligus risiko.
China Masters menawarkan kesempatan mendapatkan gelar besar dan mempertahankan momentum. Terlebih lagi, beberapa rival utama sudah mundur. Di sisi lain, setiap pertandingan tambahan berarti beban fisik yang lebih tinggi menjelang Asian Games.
Karena itu, efisiensi menjadi sangat penting.
Kemenangan 21-11, 21-3 atas Lin merupakan hasil ideal. An mendapatkan pertandingan kompetitif tanpa harus menghabiskan terlalu banyak waktu di lapangan. Jika pola tersebut terus berlanjut, ia dapat mengejar gelar tanpa mengorbankan terlalu banyak energi.
China Masters 2026 Jadi Peluang Mengejar Gelar Ketiga Beruntun
Ada alasan lain mengapa An tetap memiliki motivasi besar bermain di Shenzhen. Ia datang dengan kesempatan menciptakan pencapaian istimewa.
An Se-young sedang mengejar gelar China Masters ketiga secara beruntun. Kemenangan pada edisi 2026 akan memperpanjang dominasinya di turnamen Super 750 tersebut.
Status unggulan pertama membuatnya menjadi pemain yang harus dikalahkan. Namun, tekanan itu bukan hal baru. An sudah lama menghadapi ekspektasi besar sebagai salah satu pemain terbaik dunia.
Permainannya juga cocok untuk turnamen dengan jadwal ketat. Ia memiliki pertahanan kuat, kemampuan mengubah reli defensif menjadi serangan, serta konsistensi yang membuat lawan harus bekerja keras untuk mendapatkan satu poin.
Kualitas tersebut kembali terlihat pada pertandingan pertama.
Lin mampu mendapatkan 11 poin pada gim pembuka. Namun, setelah An memahami pola permainan lawannya, perbedaan kualitas menjadi semakin besar. Gim kedua berakhir 21-3.
Skor tersebut memberikan pesan jelas kepada pemain lain dalam bagan.
Absennya Chen dan Han memang membantu jalannya. Namun, performa An sendiri menjadi alasan utama mengapa ia tetap menjadi favorit.
Persaingan Belum Selesai karena Akane Yamaguchi dan Wang Zhiyi Masih Ada
Meskipun jalan menuju fase akhir lebih terbuka, China Masters 2026 belum berubah menjadi turnamen tanpa ancaman bagi An Se-young.
Nama besar seperti Akane Yamaguchi masih berada dalam persaingan. Pemain Jepang tersebut memiliki pengalaman panjang menghadapi An dan sudah berkali-kali tampil pada pertandingan besar.
China juga masih mempunyai Wang Zhiyi, salah satu pemain terbaik dunia saat ini. Setelah Chen Yufei dan Han Yue mundur, Wang menjadi harapan terbesar tuan rumah di sektor tunggal putri.
Karena itu, keuntungan An terutama berada pada fase awal hingga perempat final.
Ia tidak perlu menghadapi Han seperti yang sebelumnya diproyeksikan. Namun, pertandingan semifinal dan final masih berpotensi mempertemukannya dengan pemain elite.
Situasi ini justru dapat memberikan keuntungan strategis. Jika An mampu menyelesaikan pertandingan awal secara efisien, ia dapat memasuki fase akhir dengan kondisi fisik lebih segar.
Kemenangan dalam 33 menit pada pertandingan pertama menjadi awal yang sangat baik.
Sementara itu, pemain Korea Selatan lainnya juga mendapatkan hasil positif. Kim Ga-eun berhasil mengalahkan wakil India Unnati Hooda pada babak pertama. Dengan demikian, Korea masih memiliki lebih dari satu wakil yang dapat membuat persaingan tunggal putri semakin menarik.
China Masters Datang di Tengah Persiapan Menuju Asian Games
China Masters 2026 berlangsung pada periode yang menarik dalam kalender bulu tangkis internasional. Turnamen ini hadir tidak lama setelah Kejuaraan Dunia dan menjelang Asian Games Aichi-Nagoya.
Akibatnya, setiap negara harus menentukan prioritas.
China memilih memberikan waktu pemulihan kepada sejumlah pemain penting. Indonesia juga datang dengan skuad yang lebih ramping setelah menarik beberapa wakil untuk fokus pada pemulihan menuju Asian Games. China Masters sendiri berlangsung di Shenzhen pada 1–6 September 2026 dan berstatus BWF World Tour Super 750.
Status Super 750 tetap membuat turnamen ini penting. Pemain dapat mengejar poin ranking, poin menuju World Tour Finals, hadiah besar, sekaligus menjaga ritme pertandingan.
Namun, risiko kelelahan juga meningkat.
Situasi tersebut menjelaskan mengapa pengunduran diri beberapa pemain elite tidak selalu berkaitan dengan performa. Tim harus mengatur kondisi atlet untuk menghadapi rangkaian kompetisi besar dalam waktu berdekatan.
An memilih pendekatan berbeda.
Ia tetap bertanding dan sekarang memiliki kesempatan besar untuk memanfaatkan perubahan bagan. Jika mampu memenangkan China Masters, keputusan tersebut akan memberikan hasil yang sangat berharga sebelum fokus beralih menuju Asian Games.
Jalan Terbuka, tetapi An Se-young Tetap Harus Menyelesaikan Tugas
Mundurnya Chen Yufei dan Han Yue jelas mengubah peta persaingan tunggal putri China Masters 2026. An Se-young kehilangan dua calon lawan berbahaya dan kini tidak dijadwalkan bertemu pemain unggulan hingga semifinal.
Namun, keuntungan di atas kertas tetap harus dibuktikan di lapangan.
An mengambil langkah pertama dengan sangat meyakinkan. Kemenangan 21-11, 21-3 atas Lin Hsiang-ti menunjukkan bahwa pemain nomor satu dunia tersebut tidak datang ke Shenzhen sekadar untuk menjaga ritme. Ia masih memiliki kemampuan untuk mengejar gelar.
Tantangan berikutnya akan menentukan apakah dominasi tersebut dapat terus bertahan.
Akane Yamaguchi masih menjadi ancaman. Wang Zhiyi membawa harapan tuan rumah. Pemain lain juga mempunyai kesempatan menghasilkan kejutan ketika turnamen memasuki fase gugur yang semakin dalam.
Meski demikian, kondisi saat ini sulit untuk diabaikan.
Dua rival utama China sudah keluar sebelum memainkan satu pertandingan. An justru membuka turnamen dengan kemenangan telak hanya dalam 33 menit.
China Masters 2026 baru dimulai, tetapi jalan An Se-young menuju gelar ketiga beruntun sudah terlihat lebih terbuka. Sekarang tugasnya adalah memastikan keuntungan tersebut benar-benar berubah menjadi trofi.





