Filip Hrgovic menciptakan salah satu kejutan terbesar di tinju kelas berat pada 2026. Petinju asal Kroasia itu menghentikan Moses Itauma pada ronde kesembilan untuk merebut gelar dunia kelas berat IBF yang kosong di The O2 Arena, London, Sabtu malam, 29 Agustus 2026. Hrgovic sempat berada dalam tekanan besar dan tertinggal sepanjang sebagian besar pertarungan. Namun, ketahanan fisik serta pengalamannya mengubah jalannya duel ketika Itauma mulai kehilangan tenaga. Wasit akhirnya menghentikan pertarungan pada ronde kesembilan saat Hrgovic melancarkan serangan bertubi-tubi di dekat tali ring. Sudut Itauma juga melempar handuk hampir bersamaan dengan keputusan penghentian tersebut. Kemenangan ini bukan hanya memberikan sabuk IBF kepada Hrgovic, tetapi juga menjadikannya petinju Kroasia pertama yang berhasil menjadi juara dunia kelas berat.
Moses Itauma Mendominasi Awal Pertarungan
Pertarungan sebenarnya berjalan sesuai skenario Itauma selama beberapa ronde pertama. Petinju Inggris berusia 21 tahun tersebut datang ke The O2 dengan rekor profesional sempurna 14 kemenangan tanpa kekalahan, termasuk 12 kemenangan melalui KO. Kecepatan tangan, kombinasi pukulan, dan pergerakannya membuat Hrgovic kesulitan menemukan ritme. Itauma bahkan menjatuhkan Hrgovic pada ronde kedua dan terus mendaratkan kombinasi yang mengganggu pertahanan petinju Kroasia tersebut. Hrgovic harus menerima banyak pukulan ke kepala maupun tubuh, tetapi ia tetap bertahan dan terus memberikan tekanan.
Itauma juga memiliki motivasi sejarah yang besar. Jika menang, ia berpeluang menjadi juara dunia kelas berat termuda kedua sepanjang sejarah setelah Mike Tyson. Ambisi itu terlihat dari pendekatan agresif yang ia gunakan sejak bel pertama. Kecepatan menjadi senjata utama Itauma, sementara Hrgovic lebih banyak mengandalkan daya tahan untuk melewati tekanan. Sebuah uppercut keras Itauma bahkan mengenai Hrgovic menjelang akhir ronde kelima. Tekanan kembali berlanjut pada ronde keenam. Meski demikian, Hrgovic tidak kehilangan ketenangan dan tetap mencoba membawa pertarungan menuju ronde-ronde akhir.
Strategi tersebut perlahan memberikan hasil. Itauma belum pernah melewati ronde keenam sepanjang karier profesionalnya sebelum menghadapi Hrgovic. Karena itu, duel ini menjadi ujian baru bagi stamina dan kemampuannya mengatur tempo dalam pertarungan panjang. Hrgovic kemudian mengatakan bahwa ia sudah melihat tanda-tanda Itauma menghabiskan terlalu banyak energi. Alih-alih mengejar penyelesaian cepat, petinju berusia 34 tahun itu memilih bertahan, menjaga tekanan, dan menunggu kesempatan ketika lawannya mulai kelelahan.
Filip Hrgovic Bertahan di Tengah Tekanan Besar
Kemampuan Hrgovic menyerap tekanan menjadi faktor yang menentukan hasil pertandingan. Secara teknis, Itauma terlihat lebih cepat dan mampu memenangkan sebagian besar ronde awal. Hrgovic sendiri mengakui setelah pertandingan bahwa ia merasa tertinggal dan kalah dalam banyak ronde. Namun, kelas berat tidak selalu ditentukan oleh siapa yang tampil paling dominan sejak awal. Ketahanan, pengalaman, manajemen energi, dan kemampuan bertahan ketika menerima pukulan keras juga dapat mengubah arah pertarungan. Semua faktor tersebut akhirnya bekerja untuk Hrgovic.
Perubahan mulai terlihat ketika pertandingan memasuki fase akhir. Gerakan Itauma tidak lagi secepat sebelumnya dan efektivitas serangannya perlahan menurun. Sebaliknya, Hrgovic masih mampu maju dan mempertahankan tekanan. Kondisi tersebut menciptakan situasi yang berbahaya bagi Itauma karena petinju muda Inggris itu membutuhkan semakin banyak energi untuk menjauh dari jangkauan lawannya. Hrgovic kemudian meningkatkan agresivitas ketika melihat kesempatan terbuka. Pengalaman bertarung melawan lawan kelas berat elite membuatnya tidak terburu-buru ketika momentum mulai berpindah.
Duel semakin keras pada ronde kedelapan. Itauma masih mencoba mempertahankan kendali, tetapi tanda-tanda kelelahan menjadi semakin jelas. Hrgovic justru menemukan energi tambahan untuk terus bergerak maju. Pada titik inilah pertarungan yang sebelumnya terlihat mengarah kepada kemenangan Itauma mulai berubah. Hrgovic mengetahui bahwa peluang terbaiknya bukan memenangkan duel teknis, melainkan memaksa lawannya bertarung ketika kondisi fisiknya sudah menurun. Strategi sederhana tersebut akhirnya menghasilkan salah satu comeback paling dramatis di kelas berat tahun ini.
Ronde Kesembilan Mengubah Segalanya
Hrgovic langsung meningkatkan tekanan ketika ronde kesembilan dimulai. Itauma yang sudah kelelahan semakin kesulitan menjaga jarak. Petinju Kroasia itu terus bergerak maju dan melancarkan pukulan keras hingga memaksa lawannya mundur menuju tali ring. Itauma masih mencoba membalas, tetapi kondisi fisiknya tidak lagi mendukung gaya bertarung cepat yang membuatnya mendominasi ronde-ronde sebelumnya. Hrgovic melihat kesempatan tersebut dan tidak membiarkannya berlalu.
Serangkaian pukulan kemudian menghantam Itauma di dekat tali. Wasit Howard Foster akhirnya menghentikan pertandingan pada ronde kesembilan ketika Itauma sudah tidak mampu mempertahankan diri secara efektif. Pelatih Itauma, Ben Davison, juga melempar handuk hampir pada saat bersamaan untuk mengakhiri duel. Dengan demikian, Hrgovic resmi menang melalui technical knockout atau TKO dan merebut gelar dunia kelas berat IBF yang sebelumnya kosong. Catatan resmi The Ring juga mencatat kemenangan Hrgovic sebagai TKO ronde kesembilan.
Kekalahan tersebut sekaligus menjadi kekalahan profesional pertama Itauma. Sebelum pertarungan, ia memiliki 14 kemenangan dan 12 KO. Sementara itu, kemenangan membuat rekor Hrgovic menjadi 21 kemenangan dengan satu kekalahan, sedangkan jumlah kemenangannya melalui KO bertambah menjadi 16. Perbedaan pengalaman akhirnya memainkan peran besar. Itauma mempunyai kecepatan dan kemampuan teknis yang luar biasa, tetapi Hrgovic menunjukkan bahwa pertarungan kelas berat tingkat dunia membutuhkan lebih dari sekadar dominasi pada ronde awal.
Hrgovic Cetak Sejarah untuk Tinju Kroasia
Sabuk IBF memberikan arti yang jauh lebih besar daripada sekadar kemenangan ke-21 dalam karier Hrgovic. Petinju berusia 34 tahun itu sekarang tercatat sebagai petinju Kroasia pertama yang menjadi juara dunia kelas berat. Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena ia mendapatkannya setelah melewati pertarungan yang nyaris sepenuhnya berada di bawah kendali lawannya. Hrgovic datang ke London menghadapi salah satu prospek kelas berat paling berbahaya, menerima tekanan selama beberapa ronde, kemudian pulang sebagai juara dunia.
Perjalanan Hrgovic menuju sabuk dunia juga tidak berlangsung mulus. Sebelum melawan Itauma, ia pernah kalah dari Daniel Dubois dalam perebutan gelar interim IBF pada Juni 2024. Namun, Hrgovic kemudian membangun kembali posisinya dengan tiga kemenangan beruntun sebelum mendapatkan kesempatan menghadapi Itauma. Salah satunya datang ketika ia mengalahkan Dave Allen pada Mei 2026. Kesempatan perebutan sabuk kemudian terbuka setelah gelar IBF menjadi kosong dan pertarungan Itauma melawan Hrgovic ditetapkan sebagai duel perebutan gelar dunia.
Kemenangan di London akhirnya mengubah posisi Hrgovic di peta kelas berat. Sebelumnya, ia lebih sering dipandang sebagai penantang berbahaya yang berada di sekitar perebutan gelar. Kini statusnya berbeda karena sabuk IBF berada di tangannya. Hrgovic bahkan menyatakan keinginan untuk menjalani pertarungan unifikasi. Ia menyebut nama pemegang gelar WBC Agit Kabayel sebagai salah satu target, meskipun kewajiban mempertahankan gelar kemungkinan akan menentukan langkah berikutnya.
Moses Itauma Dibawa ke Rumah Sakit Setelah Pertarungan
Situasi Itauma sempat menimbulkan kekhawatiran setelah pertarungan selesai. Ia meninggalkan ring menggunakan tandu dan dibawa ke rumah sakit sebagai langkah pencegahan. Selain kelelahan setelah pertarungan berintensitas tinggi, terdapat kekhawatiran mengenai kondisi kakinya. Kabar terbaru pada Minggu, 30 Agustus, memberikan perkembangan positif. Queensberry Promotions mengonfirmasi bahwa Itauma sudah meninggalkan rumah sakit dan kembali bersama keluarganya.
Kekalahan ini tentu menjadi pukulan besar bagi Itauma karena ekspektasi terhadapnya sangat tinggi. Namun, satu kekalahan tidak otomatis menghapus statusnya sebagai salah satu talenta kelas berat paling menjanjikan. Bahkan Hrgovic tetap memberikan pujian tinggi kepada lawannya setelah pertandingan. Juara baru IBF itu mengakui kecepatan dan bakat Itauma, tetapi menilai pengalaman serta pengelolaan stamina masih perlu berkembang. Duel melawan Hrgovic menjadi pertama kalinya Itauma melewati enam ronde sebagai petinju profesional.
Pada usia 21 tahun, Itauma masih memiliki waktu panjang untuk memperbaiki kelemahannya. Pengalaman menghadapi lawan yang mampu bertahan melewati serangan awal justru dapat menjadi pelajaran penting untuk kariernya. Ia sekarang mengetahui bahwa kekuatan dan kecepatan tidak selalu cukup ketika pertarungan memasuki ronde akhir. Kemampuan mengatur tempo, memilih kapan harus meningkatkan serangan, dan mempertahankan stamina akan menjadi bagian penting dalam proses perkembangannya menuju level juara dunia.
Gelar IBF Buka Babak Baru Persaingan Kelas Berat
Kemenangan Filip Hrgovic juga membuat persaingan kelas berat semakin menarik. Ia memang ingin mengejar pertarungan unifikasi, tetapi ada kewajiban yang kemungkinan harus diselesaikan lebih dahulu. Frank Sanchez sebelumnya mendapat posisi untuk memperebutkan gelar IBF. Namun, kubu Sanchez menerima kesepakatan untuk menepi sementara agar Itauma dan Hrgovic dapat memperebutkan sabuk kosong. Berdasarkan konfirmasi IBF yang dilaporkan sebelum pertandingan, pemenang Itauma vs Hrgovic harus menghadapi Sanchez dalam waktu enam bulan tanpa pertarungan selingan.
Sky Sports juga melaporkan setelah kemenangan Hrgovic bahwa Frank Sanchez menjadi penantang wajib IBF berikutnya. Artinya, ambisi Hrgovic mengejar pertarungan unifikasi belum tentu bisa langsung terwujud. Ia harus mempertahankan sabuknya jika IBF memerintahkan duel wajib tersebut lebih dahulu. Meski demikian, kemenangan atas Itauma telah memberi Hrgovic posisi yang jauh lebih kuat untuk menentukan masa depannya di divisi kelas berat.
Malam di The O2 pada akhirnya memberikan dua cerita yang sangat berbeda. Itauma datang dengan kesempatan mencetak sejarah sebagai salah satu juara kelas berat termuda sepanjang masa, tetapi justru mengalami kekalahan profesional pertamanya. Hrgovic memasuki ring sebagai petinju yang lebih berpengalaman namun harus bertahan dari dominasi lawannya selama sebagian besar duel. Ia tidak menyerah, menunggu momentum, lalu menyelesaikan pertarungan ketika kesempatan datang. Dari posisi tertinggal menuju sabuk juara dunia, kemenangan ini menjadi titik terbesar dalam karier Filip Hrgovic sekaligus membuka babak baru persaingan kelas berat dunia.



