Tim nasional voli putri Thailand akhirnya mewujudkan mimpi yang selama puluhan tahun selalu terasa begitu dekat tetapi tidak pernah berhasil mereka raih. Thailand memastikan tiket menuju Olimpiade Los Angeles 2028 setelah mengalahkan tuan rumah China dalam final AVC Women’s Volleyball Continental Championship 2026 di Tianjin, Minggu, 30 Agustus 2026. Pertandingan berlangsung dramatis selama lima set sebelum Thailand keluar sebagai pemenang dengan skor 3-2 (25-20, 11-25, 23-25, 25-18, 15-10). Kemenangan tersebut tidak hanya memberikan gelar Asia keempat bagi Thailand, tetapi juga memastikan tim voli putri negara itu tampil di Olimpiade untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.
Pencapaian itu terasa semakin istimewa karena Thailand mendapatkannya dengan menumbangkan salah satu kekuatan terbesar voli dunia di kandangnya sendiri. China merupakan juara Asia 13 kali dan tiga kali meraih emas Olimpiade. Mereka juga selalu tampil di Olimpiade sejak debut pada Los Angeles 1984. Thailand datang dengan sejarah yang sangat berbeda. Selama beberapa dekade, generasi demi generasi pemain mereka mencoba menembus Olimpiade tanpa keberhasilan. Namun, semua kegagalan tersebut akhirnya terbayar dalam satu malam bersejarah di Tianjin.
Thailand Sempat Tertinggal 1-2 Sebelum Bangkit
Thailand memulai final dengan kepercayaan diri tinggi. Pertahanan yang disiplin dan serangan efektif membantu mereka mengendalikan set pertama. China mencoba memberikan tekanan melalui permainan di depan net, tetapi Thailand mampu mempertahankan ritmenya dan merebut set pembuka dengan skor 25-20. Awal tersebut memberikan harapan bahwa Thailand mampu memberikan perlawanan meski menghadapi tuan rumah di Tianjin Olympic Center Gymnasium.
China kemudian memberikan respons keras pada set kedua. Tuan rumah meningkatkan tekanan servis dan memanfaatkan masalah penerimaan bola pertama Thailand. Lima block membantu China mendominasi permainan, sementara Wu Mengjie berkali-kali menghasilkan poin dari sisi kiri. China akhirnya mengambil set kedua dengan skor telak 25-11 dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Pertarungan menjadi jauh lebih ketat pada set ketiga. China sempat memimpin 8-3 sebelum Thailand bangkit dan membalikkan momentum. Thailand bahkan berada di depan 22-19 ketika kemenangan set mulai terlihat dekat. Namun, China menunjukkan kualitasnya pada fase kritis. Tuan rumah mencetak empat poin beruntun untuk berbalik unggul 23-22 dan akhirnya menutup set dengan skor 25-23.
Kondisi tersebut membuat Thailand berada dalam tekanan besar. China unggul 2-1 dan hanya membutuhkan satu set lagi untuk menjadi juara sekaligus mengambil tiket langsung menuju Olimpiade. Namun, Thailand tidak kehilangan kendali. Mereka justru membuka set keempat dengan agresif dan langsung membangun keunggulan 12-5. China tidak pernah benar-benar mampu mengejar, sementara Thailand mempertahankan intensitas hingga memenangkan set 25-18.
Final pun harus ditentukan melalui set kelima. Bukan hanya gelar Asia yang menjadi taruhan. Satu set tersebut menentukan negara mana yang mendapatkan tiket langsung Asia menuju Los Angeles 2028.
Set Kelima Jadi 15 Poin Terpenting dalam Sejarah Voli Thailand
Tekanan pada set penentuan sulit menjadi lebih besar. Ribuan pendukung China memenuhi arena, sementara kedua tim mengetahui bahwa satu rangkaian kesalahan dapat menentukan gelar dan tiket Olimpiade. China membuka persaingan dengan baik dan sempat unggul 6-4. Thailand kemudian menyamakan keadaan sebelum berbalik memimpin 7-6.
Momen penting muncul ketika block Thailand mengubah skor menjadi 9-7. Setelah itu, servis agresif memaksa China melakukan dua kesalahan penerimaan secara beruntun. Thailand mulai mendapatkan jarak dan tidak memberikan kesempatan kepada tuan rumah untuk kembali menguasai pertandingan. Mereka akhirnya menutup set kelima dengan skor 15-10.
Skor akhir 3-2 langsung memicu perayaan besar. Para pemain dan staf Thailand berlari ke lapangan setelah poin terakhir. Mereka bukan hanya menjadi juara Asia. Untuk pertama kalinya, Thailand resmi memiliki tim voli putri yang akan bertanding di Olimpiade.
Statistik pertandingan menunjukkan betapa tipisnya perbedaan kedua tim. Thailand mengumpulkan 99 poin sepanjang lima set, sedangkan China mendapatkan 98. Dengan kata lain, hanya satu poin yang memisahkan total produksi kedua negara dalam pertandingan yang menentukan salah satu pencapaian terbesar olahraga Thailand.
Sasipaporn Janthawisut menjadi pemain paling produktif dengan 28 poin, terdiri dari 25 poin serangan dan tiga ace. Thatdao Nuekjang menambahkan 18 poin dengan tujuh block, sedangkan Chatchu-On Moksri ikut memberikan kontribusi besar dalam kemenangan Thailand. Kombinasi tersebut membantu Thailand bertahan ketika China meningkatkan tekanan.
Mimpi Olimpiade yang Ditunggu Puluhan Tahun Akhirnya Terwujud
Bagi Thailand, tiket Los Angeles 2028 memiliki nilai yang bahkan lebih besar daripada gelar Asia. Tim voli putri mereka sudah lama menjadi salah satu kekuatan penting di kawasan Asia dan berkali-kali tampil di turnamen internasional besar. Namun, satu panggung selalu gagal mereka capai: Olimpiade.
Beberapa generasi pemain Thailand pernah mendekati tiket tersebut. Mereka gagal lolos ke Olimpiade London 2012, Rio 2016, Tokyo 2020, dan Paris 2024. Kegagalan menuju Rio bahkan meninggalkan kenangan pahit setelah pertandingan kontroversial melawan Jepang pada turnamen kualifikasi 2016. Berbagai kegagalan tersebut membuat Olimpiade menjadi semacam batas terakhir bagi perkembangan voli putri Thailand.
Pelatih Kiattipong Radchatagriengkai memahami perjalanan panjang tersebut. Setelah kemenangan atas China, ia menggambarkan keberhasilan ini sebagai mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Kiattipong mengatakan dirinya telah menunggu sekitar 30 tahun sebagai pelatih untuk melihat Thailand mencapai Olimpiade. Ia juga menekankan bahwa pemain dan staf sudah mengorbankan banyak hal untuk mengejar tujuan tersebut.
Kiattipong sendiri kembali memimpin Thailand pada 2024 untuk periode keduanya sebagai pelatih kepala. Di bawah arahannya, tim membangun sistem permainan yang mengandalkan koordinasi, kecepatan, pertahanan, dan variasi serangan untuk menghadapi lawan yang memiliki keunggulan fisik.
Hasilnya terlihat jelas di Tianjin. Thailand tidak mendapatkan tiket Olimpiade dengan perjalanan mudah. Mereka harus menghadapi beberapa kekuatan besar Asia dan kemudian menumbangkan China di kandangnya sendiri pada pertandingan terakhir.
Thailand Lewati Korea Selatan, Jepang, dan China
Perjalanan Thailand menuju gelar membuat pencapaian tersebut semakin mengesankan. Mereka tidak hanya mendapatkan undian menguntungkan lalu menghadapi satu lawan berat di final. Thailand harus melewati sejumlah negara yang memiliki sejarah kuat dalam voli Asia.
Pada fase gugur, Thailand mengalahkan Korea Selatan sebelum menghadapi Jepang. Kedua negara tersebut memiliki tradisi panjang dalam voli internasional. Thailand mampu melewati keduanya dan mendapatkan tiket menuju final melawan China. Dengan demikian, perjalanan menuju gelar membuat mereka mengalahkan Korea Selatan, Jepang, dan China secara berurutan.
China menjadi tantangan terbesar. Selain bermain sebagai tuan rumah, negara tersebut memiliki sejarah yang sulit dibandingkan dengan hampir semua tim Asia lainnya. China telah memenangkan Asian Championship sebanyak 13 kali dan meraih tiga emas Olimpiade pada 1984, 2004, dan 2016.
Namun, Thailand sudah membuktikan bahwa mereka mampu mengalahkan China pada pertandingan besar. Kedua negara juga bertemu pada final Asian Championship 2023 dan Thailand memenangkan pertandingan tersebut. Kemenangan di Tianjin membuat Thailand berhasil mempertahankan gelar sekaligus mengumpulkan empat gelar Asia sepanjang sejarah.
Hasil tersebut juga menunjukkan perubahan peta kekuatan voli putri Asia. China tetap menjadi salah satu negara terkuat dunia, tetapi Thailand kini mampu menghadapi mereka secara konsisten pada pertandingan penting. Kemenangan di Tianjin menjadi bukti paling kuat karena taruhannya jauh lebih besar dibandingkan sekadar medali.
Los Angeles 2028 Akan Menjadi Debut Bersejarah Thailand
Thailand sekarang dapat mempersiapkan diri untuk sesuatu yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Ketika turnamen voli putri Olimpiade Los Angeles 2028 dimulai, nama Thailand untuk pertama kalinya akan berada dalam daftar peserta.
Tiket tersebut datang melalui jalur kontinental. Juara AVC Women’s Volleyball Continental Championship 2026 mendapatkan satu tempat langsung menuju Olimpiade. Thailand menjadi negara Asia yang mengambil tiket tersebut setelah memenangkan final. Sebelumnya, Kanada juga memastikan tiket melalui kompetisi kontinental NORCECA.
China belum mendapatkan tiket langsung setelah kalah di final. Namun, kekalahan tersebut tidak berarti mereka gagal menuju Los Angeles. Juara Olimpiade tiga kali itu masih memiliki jalur kualifikasi berikutnya. Kiattipong bahkan mengatakan dirinya yakin China memiliki kualitas untuk mendapatkan tempat melalui kesempatan yang tersisa.
Bagi Thailand, situasinya jauh lebih nyaman. Mereka tidak lagi harus memasuki siklus kualifikasi dengan tekanan mengejar tiket Olimpiade. Kepastian dua tahun sebelum Los Angeles memberikan waktu kepada tim untuk membangun skuad, menjaga kondisi pemain, dan meningkatkan level permainan menghadapi negara terbaik dunia.
Thailand dan China juga mendapatkan tiket menuju kompetisi dunia 2027 melalui keberhasilan mencapai final. Dengan demikian, Thailand akan memiliki panggung besar sebelum menjalani debut Olimpiade mereka. Pertandingan menghadapi negara elite dapat menjadi bagian penting dari persiapan menuju Los Angeles.
Gelar Asia Keempat Menandai Era Baru Voli Thailand
Kemenangan atas China tidak berdiri sendiri. Thailand kini mengoleksi empat gelar Asian Championship. Sebelum keberhasilan 2026, mereka pernah menjadi juara pada 2009, 2013, dan 2023. Keberhasilan mempertahankan gelar menunjukkan bahwa Thailand bukan lagi sekadar tim yang sesekali mampu mengejutkan kekuatan tradisional Asia.
Prestasi tersebut semakin menarik karena Thailand tidak memiliki keunggulan postur sebesar beberapa rivalnya. Mereka membangun kekuatan melalui kecepatan, koordinasi, pertahanan, dan kemampuan mengubah pola serangan. Sistem tersebut terlihat ketika menghadapi China yang memiliki kemampuan block kuat.
Sasipaporn menjadi contoh bagaimana Thailand mampu menemukan pemain yang memberikan dimensi berbeda dalam serangan. Produksi 28 poinnya di final memberikan ancaman konstan kepada pertahanan China. Sementara itu, tujuh block Thatdao membuktikan bahwa Thailand tetap mampu bersaing di depan net meskipun menghadapi lawan dengan keunggulan fisik.
Prestasi ini juga membawa voli Thailand kembali menjadi pusat perhatian publik nasional. Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul memberikan apresiasi kepada tim setelah kemenangan tersebut dan menyebut keberhasilan menuju Olimpiade sebagai pencapaian yang luar biasa bagi negara.
Namun, tantangan berikutnya akan jauh lebih besar. Olimpiade mempertemukan tim terbaik dari berbagai benua dan hampir tidak memberikan pertandingan mudah. Thailand memiliki waktu sekitar dua tahun untuk meningkatkan kualitas sebelum menghadapi level persaingan tersebut.
Untuk saat ini, mereka pantas menikmati pencapaian yang sudah ditunggu begitu lama. Puluhan tahun kegagalan, beberapa generasi pemain, serta berbagai kesempatan yang terlewat akhirnya bermuara pada lima set melawan China di Tianjin.
Thailand sempat tertinggal 1-2. Mereka menghadapi tuan rumah, juara Asia 13 kali, dan negara yang selalu bermain di Olimpiade sejak 1984. Namun, Thailand memenangkan dua set terakhir dan mengubah perjalanan voli negaranya selamanya.
Ketika skor set kelima berhenti pada 15-10, Thailand bukan hanya menjadi juara Asia untuk keempat kalinya. Mereka akhirnya mendapatkan sesuatu yang tidak pernah berhasil diraih generasi sebelumnya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tim voli putri Thailand akan bermain di Olimpiade.
Los Angeles 2028 sekarang bukan lagi mimpi. Thailand sudah memiliki tiketnya.



