Treesa Jolly dan Gayatri Gopichand menorehkan salah satu pencapaian terbesar dalam karier mereka setelah meraih medali perunggu pada BWF World Championships 2026 di New Delhi, India. Pasangan ganda putri India tersebut datang tanpa status unggulan dan sempat menghadapi periode sulit akibat cedera. Namun, Treesa–Gayatri justru menghasilkan perjalanan mengejutkan hingga semifinal dan menjadi satu-satunya wakil India yang membawa pulang medali dari Kejuaraan Dunia tahun ini. Prestasi tersebut sekaligus mengakhiri penantian 15 tahun India untuk mendapatkan medali Kejuaraan Dunia dari sektor ganda putri.
Perjalanan mereka akhirnya berhenti di semifinal setelah menghadapi pasangan nomor satu dunia sekaligus juara bertahan asal China, Liu Sheng Shu dan Tan Ning. Treesa–Gayatri bahkan memenangkan gim pertama 21-18 sebelum lawannya membalikkan pertandingan dengan skor 21-13 dan 21-8. Meski gagal mencapai final, medali perunggu membawa dampak besar. Treesa dan Gayatri melonjak 12 posisi dalam ranking dunia terbaru, dari peringkat ke-39 menjadi peringkat ke-27 dengan 44.192 poin. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa kebangkitan mereka bukan sekadar kejutan dalam satu turnamen, tetapi dapat menjadi awal perjalanan kembali menuju jajaran elite ganda putri dunia.
Treesa–Gayatri Datang Tanpa Ekspektasi Besar
Treesa dan Gayatri tidak memasuki BWF World Championships 2026 sebagai salah satu pasangan favorit. Keduanya bahkan berada di peringkat ke-39 dunia menjelang turnamen dan tidak mendapatkan status unggulan. Kondisi itu sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya ketika mereka sempat menembus jajaran 10 besar dunia. Cedera menjadi salah satu faktor utama yang mengganggu perkembangan pasangan India tersebut.
Treesa mengalami cedera pergelangan kaki pada April 2026 yang membuatnya absen selama sekitar tiga bulan. Kondisi tersebut mengurangi kesempatan mereka mengikuti turnamen dan mendapatkan pertandingan berkualitas menjelang Kejuaraan Dunia. Gayatri juga harus menjaga kondisi fisiknya setelah keduanya melewati periode yang tidak mudah dalam beberapa musim terakhir.
Karena itu, perhatian publik India sebelum turnamen lebih banyak tertuju kepada nama lain. PV Sindhu, Ayush Shetty, serta pasangan Satwiksairaj Rankireddy–Chirag Shetty mendapatkan sorotan lebih besar. Namun, satu per satu kandidat medali India mulai tersingkir. Situasi itu membuat peluang tuan rumah mempertahankan tradisi medali Kejuaraan Dunia berada dalam ancaman. India selalu mendapatkan setidaknya satu medali dalam setiap edisi sejak 2011.
Treesa dan Gayatri justru muncul ketika tekanan semakin besar. Mereka memainkan turnamen tanpa beban status unggulan dan perlahan menemukan kembali permainan terbaik. Perjalanan tersebut kemudian menghasilkan beberapa kemenangan atas pasangan unggulan dan membawa mereka menuju pertandingan yang menentukan medali.
Comeback Dramatis di Perempat Final Pastikan Medali
Momen terbesar Treesa–Gayatri datang pada perempat final ketika mereka menghadapi unggulan keempat asal China, Jia Yi Fan dan Zhang Shu Xian. Pasangan India tersebut kehilangan gim pertama dengan skor 16-21. Namun, mereka tidak membiarkan kekalahan awal menghentikan perjalanan di depan pendukung sendiri.
Treesa dan Gayatri meningkatkan intensitas permainan pada gim kedua. Mereka mulai mengendalikan reli dengan lebih baik dan mengurangi kesalahan yang sebelumnya memberikan keuntungan kepada pasangan China. Strategi tersebut menghasilkan kemenangan 21-15 dan memaksa pertandingan berlanjut ke gim penentuan.
Momentum sepenuhnya berubah pada gim ketiga. Treesa–Gayatri bermain semakin percaya diri dan menekan lawannya sejak awal. Mereka akhirnya merebut gim penentuan dengan skor 21-13 untuk menyelesaikan comeback 16-21, 21-15, 21-13 dalam pertandingan yang berlangsung satu jam sembilan menit.
Kemenangan tersebut langsung memastikan setidaknya medali perunggu karena BWF World Championships memberikan medali kepada dua pasangan yang kalah di semifinal. Treesa dan Gayatri tidak mampu menahan emosi setelah memastikan kemenangan. Hasil itu menjadi puncak dari perjuangan menghadapi cedera, penurunan ranking, serta keraguan yang mengikuti perjalanan mereka.
Keberhasilan tersebut juga menghasilkan catatan bersejarah. Treesa–Gayatri menjadi pasangan ganda putri India pertama yang memenangkan medali Kejuaraan Dunia sejak Jwala Gutta dan Ashwini Ponnappa meraih perunggu pada 2011. Treesa juga menjadi perempuan pertama asal Kerala yang mendapatkan medali di BWF World Championships.
Sempat Kejutkan Pasangan Nomor Satu Dunia di Semifinal
Setelah memastikan medali, Treesa dan Gayatri mendapatkan tantangan yang jauh lebih berat. Mereka menghadapi Liu Sheng Shu dan Tan Ning, pasangan nomor satu dunia sekaligus unggulan pertama dan juara bertahan. Catatan pertemuan juga tidak berpihak kepada India karena Liu–Tan mendominasi sebagian besar duel sebelumnya.
Namun, Treesa dan Gayatri tidak menunjukkan rasa takut. Dukungan publik di Indira Gandhi Indoor Stadium membantu mereka memulai pertandingan dengan agresif. Pasangan India tersebut bahkan sempat unggul pada fase awal sebelum Liu dan Tan memberikan respons.
Pertarungan kemudian berlangsung ketat. Treesa menggunakan kekuatan serangannya dari belakang, sedangkan Gayatri menjaga permainan di depan net. Kombinasi tersebut membuat pasangan nomor satu dunia harus bekerja keras. Treesa–Gayatri akhirnya mengambil gim pertama dengan skor 21-18 dan membuka peluang menciptakan kejutan terbesar mereka sepanjang turnamen.
Sayangnya, Liu dan Tan menunjukkan kualitas sebagai pasangan terbaik dunia pada gim kedua. Mereka meningkatkan tempo dan mengurangi kesempatan Treesa melakukan serangan. Pasangan China tersebut juga menggunakan variasi servis dan pengembalian yang mengganggu ritme India. Hasilnya, Liu–Tan merebut gim kedua 21-13.
Tekanan semakin besar pada gim penentuan. Treesa dan Gayatri mulai melakukan kesalahan, sementara lawannya mempertahankan intensitas tinggi. Liu–Tan akhirnya menguasai gim ketiga dengan skor 21-8 dan memastikan kemenangan setelah pertandingan berlangsung sekitar satu jam 11 menit.
Kekalahan tersebut memang menghentikan peluang Treesa–Gayatri mencapai final. Namun, mereka sudah menunjukkan kemampuan menekan pasangan nomor satu dunia dengan merebut gim pembuka. Performa tersebut memberikan gambaran mengenai level permainan yang dapat mereka capai ketika berada dalam kondisi terbaik.
Perunggu Akhiri Penantian 15 Tahun Ganda Putri India
Medali Treesa–Gayatri memiliki arti besar bagi badminton India. Sebelum BWF World Championships 2026, negara tersebut terakhir mendapatkan medali ganda putri melalui Jwala Gutta dan Ashwini Ponnappa pada 2011. Keduanya juga membawa pulang perunggu ketika turnamen berlangsung di London.
Artinya, India harus menunggu 15 tahun sebelum pasangan ganda putri lainnya kembali naik podium Kejuaraan Dunia. Treesa dan Gayatri akhirnya memutus penantian tersebut di kandang sendiri. Mereka juga menjadi pasangan ganda putri India kedua sepanjang sejarah yang mendapatkan medali pada ajang tersebut.
Prestasi itu semakin penting karena Treesa–Gayatri menjadi satu-satunya penyumbang medali India pada edisi 2026. Beberapa pemain yang sebelumnya memiliki peluang lebih besar justru gagal mencapai semifinal. Satwiksairaj Rankireddy dan Chirag Shetty, misalnya, harus berhenti pada perempat final.
Perunggu tersebut akhirnya menjaga tradisi panjang India. Negara itu selalu mendapatkan setidaknya satu medali dalam setiap BWF World Championships sejak 2011. Ketika beberapa nama unggulan tersingkir di New Delhi, Treesa dan Gayatri mengambil tanggung jawab untuk mempertahankan rangkaian tersebut.
Bagi sektor ganda putri, pencapaian mereka juga memiliki dampak yang lebih luas. Treesa mengatakan bahwa keberhasilan di panggung dunia dapat memberikan kepercayaan kepada generasi pemain berikutnya. Menurutnya, pemain muda India perlu percaya bahwa mereka mampu bersaing dan mendapatkan medali pada level tertinggi.
Ranking Treesa–Gayatri Melonjak Setelah Kejuaraan Dunia
Dampak perjalanan luar biasa di New Delhi langsung terlihat pada ranking dunia. Sebelum turnamen, Treesa dan Gayatri berada di posisi ke-39 dengan 33.692 poin. Mereka kemudian mendapatkan tambahan poin besar dari keberhasilan mencapai semifinal.
Dalam pembaruan ranking setelah Kejuaraan Dunia, pasangan India tersebut melonjak 12 tingkat ke posisi 27 dunia. Mereka kini mengumpulkan 44.192 poin. Kenaikan tersebut menjadi salah satu perkembangan terpenting setelah medali perunggu karena ranking memiliki pengaruh besar terhadap undian dan kesempatan mendapatkan status unggulan dalam turnamen berikutnya.
Treesa dan Gayatri sebenarnya pernah berada di jajaran 10 besar sebelum cedera menghambat momentum mereka. Karena itu, posisi ke-27 belum menjadi tujuan akhir. Namun, kenaikan 12 tingkat dalam satu pembaruan menunjukkan seberapa besar nilai perjalanan mereka di Kejuaraan Dunia.
Hasil tersebut juga memberikan peluang untuk memperbaiki posisi lebih cepat jika mereka mampu menjaga konsistensi. Ranking yang lebih tinggi dapat membantu mereka mendapatkan undian lebih baik dalam sejumlah turnamen. Pada saat yang sama, Treesa dan Gayatri tetap harus menghadapi pasangan terbaik dari China, Korea Selatan, Jepang, serta negara kuat lainnya.
Kepercayaan diri menjadi keuntungan terbesar setelah New Delhi. Gayatri bahkan mengatakan bahwa keberhasilan tersebut memperkuat keyakinannya bahwa mereka suatu hari dapat menjadi juara dunia. Pernyataan itu menunjukkan perubahan besar setelah periode yang penuh cedera dan keraguan.
Treesa juga melihat hasil ini sebagai bukti bahwa mereka mampu bersaing dengan pasangan elite. Meski masih memiliki beberapa aspek yang perlu diperbaiki, kemenangan atas tiga pasangan unggulan sepanjang turnamen menunjukkan bahwa level permainan mereka sudah kembali mendekati standar tertinggi.
Asian Games Jadi Target Berikutnya bagi Treesa dan Gayatri
Setelah meraih medali Kejuaraan Dunia, Treesa dan Gayatri tidak ingin berhenti pada pencapaian tersebut. Asian Games menjadi salah satu target berikutnya. Mereka membawa pengalaman dari New Delhi sebagai modal untuk menghadapi persaingan yang tidak kalah berat karena sektor ganda putri Asia dihuni sebagian besar pasangan terbaik dunia.
Pasangan India tersebut menyadari masih ada aspek permainan yang harus mereka tingkatkan. Treesa menilai mereka perlu mengurangi pemberian poin mudah ketika skor memasuki fase kritis. Kesalahan pada skor 15-15 atau 16-16 dapat memberikan momentum kepada pasangan kelas dunia yang mampu memanfaatkan peluang sekecil apa pun.
Pertandingan melawan Liu dan Tan memberikan contoh jelas. Treesa–Gayatri mampu memenangkan gim pertama, tetapi perubahan strategi lawan pada dua gim berikutnya mengganggu ritme mereka. Pengalaman menghadapi situasi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi penting sebelum bertemu kembali dengan pasangan elite.
Keduanya juga memiliki karakter permainan yang saling melengkapi. Treesa membawa agresivitas dan kekuatan serangan, sementara Gayatri cenderung lebih tenang dalam mengendalikan permainan. Mereka terus meningkatkan rotasi di lapangan sehingga masing-masing tidak terikat pada satu posisi sepanjang reli. Gayatri menilai perkembangan tersebut menjadi salah satu alasan permainan mereka semakin efektif.
Perunggu BWF World Championships 2026 akhirnya menjadi bukti bahwa Treesa Jolly dan Gayatri Gopichand mampu bangkit setelah melewati periode sulit. Mereka datang ke New Delhi sebagai pasangan peringkat ke-39 tanpa status unggulan dan dengan persiapan yang terganggu cedera. Namun, mereka meninggalkan turnamen sebagai peraih medali dunia dan pasangan peringkat ke-27.
Pencapaian tersebut juga membawa makna besar bagi India. Penantian 15 tahun untuk medali ganda putri Kejuaraan Dunia akhirnya berakhir, sementara tradisi India mendapatkan medali pada setiap edisi sejak 2011 tetap bertahan. Treesa dan Gayatri kini memiliki tantangan baru untuk membuktikan bahwa hasil di New Delhi bukan puncak perjalanan mereka.
Setelah menumbangkan sejumlah pasangan unggulan dan bahkan mengambil satu gim dari pasangan nomor satu dunia, keyakinan mereka tidak lagi sebatas mengejar podium. Treesa–Gayatri sudah menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing dengan pasangan terbaik. Kini target berikutnya semakin besar: kembali ke jajaran elite dunia, memburu medali Asian Games, dan suatu hari mengubah perunggu Kejuaraan Dunia menjadi emas.





