US Open 2026 resmi dimulai di Flushing Meadows, New York, pada Minggu, 30 Agustus 2026. Grand Slam terakhir musim ini langsung membawa salah satu cerita terbesar dalam dunia tenis: perjuangan Novak Djokovic mengejar gelar Grand Slam tunggal ke-25. Petenis Serbia tersebut datang sebagai unggulan kelima dan akan membuka perjalanannya menghadapi Mariano Navone dari Argentina. Jika berhasil menjadi juara, Djokovic tidak hanya mengakhiri penantian gelar mayor yang berlangsung sejak US Open 2023, tetapi juga melewati catatan 24 gelar Grand Slam tunggal yang saat ini ia bagi dengan Margaret Court. Kondisi persaingan tahun ini juga memberikan peluang menarik. Jannik Sinner absen karena cedera, sementara juara bertahan Carlos Alcaraz kembali setelah lama menepi akibat masalah pergelangan tangan. Namun, usia Djokovic yang sudah 39 tahun membuat perjalanan dua pekan di New York tetap menjadi ujian besar bagi fisiknya.
US Open 2026 Resmi Memulai Persaingan di Flushing Meadows
US Open tahun ini berlangsung pada 30 Agustus hingga 13 September dan kembali menggunakan format main draw selama 15 hari. Putaran pertama dibagi menjadi tiga hari, sehingga penyelenggara memiliki ruang lebih besar untuk mengakomodasi tingginya permintaan tiket sekaligus memberikan jadwal yang lebih luas kepada para pemain. Pertandingan berlangsung di kompleks USTA Billie Jean King National Tennis Center dengan Arthur Ashe Stadium tetap menjadi panggung utama. Sejumlah nama besar langsung tampil pada hari pembukaan, termasuk Jessica Pegula, Daniil Medvedev, dan Djokovic yang mendapat jadwal sesi malam.
Turnamen tahun ini juga mencetak rekor finansial. Total hadiah US Open 2026 mencapai US$108 juta, meningkat dari US$90 juta pada 2025 dan US$75 juta pada 2024. Angka tersebut menjadi total hadiah terbesar dalam sejarah tenis. Juara tunggal putra dan putri masing-masing akan menerima US$5,5 juta, sedangkan pemain yang tersingkir pada putaran pertama tetap membawa pulang US$140.000. Peningkatan hadiah memperlihatkan pertumbuhan komersial US Open sekaligus menjadi respons terhadap dorongan pemain untuk mendapatkan bagian pendapatan yang lebih besar dari turnamen Grand Slam.
Namun, perhatian terbesar pada sektor tunggal putra tetap mengarah kepada persaingan memperebutkan trofi. Carlos Alcaraz datang sebagai juara bertahan setelah mengalahkan Jannik Sinner pada final 2025. Alexander Zverev juga membawa status sebagai salah satu kandidat utama setelah memenangkan French Open musim ini. Di tengah persaingan tersebut, Djokovic kembali hadir dengan misi yang sudah berulang kali menjadi pembicaraan dalam beberapa tahun terakhir. Satu gelar lagi akan menempatkannya sendirian di puncak daftar peraih Grand Slam tunggal terbanyak sepanjang sejarah tenis.
Djokovic Kembali Mengejar Rekor Grand Slam ke-25
Djokovic memasuki US Open 2026 dengan koleksi 24 gelar Grand Slam tunggal. Gelar terakhirnya datang di tempat yang sama tiga tahun lalu ketika ia menjuarai US Open 2023. Sejak saat itu, perubahan generasi mulai terasa semakin kuat. Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner menjadi kekuatan utama tenis putra, sementara Djokovic harus berulang kali menerima kegagalan ketika sudah mendekati gelar ke-25. Meski demikian, ia belum menunjukkan keinginan untuk berhenti mengejar pencapaian bersejarah tersebut.
US Open memiliki tempat khusus dalam perjalanan karier Djokovic. Ia sudah empat kali menjadi juara di New York dan mencatatkan rekor 10 penampilan pada final tunggal putra. Gelar pada 2023 juga membuatnya menjadi juara tunggal putra tertua dalam sejarah US Open pada usia 36 tahun. Kini, tiga tahun kemudian, Djokovic kembali dengan kesempatan memperbarui rekornya sendiri apabila mampu bertahan hingga pertandingan terakhir dan mengangkat trofi.
Rekor 25 Grand Slam mempunyai nilai sejarah yang jauh lebih besar daripada sekadar menambah satu trofi. Djokovic saat ini sejajar dengan Margaret Court yang mengoleksi 24 gelar mayor tunggal. Karena itu, kemenangan di New York akan membuatnya berdiri sendirian dengan 25 gelar. Pencapaian tersebut juga semakin memperkuat posisinya dalam perdebatan mengenai pemain tenis terbaik sepanjang masa, terutama karena ia sudah memegang berbagai rekor penting lain selama kariernya.
Namun, Djokovic memahami bahwa sejarah tidak akan datang dengan mudah. Ia telah beberapa kali mendekati gelar ke-25 dalam tiga musim terakhir, tetapi selalu gagal menyelesaikan perjalanan. Pada Australian Open 2026, misalnya, Djokovic mencapai final setelah menyingkirkan Sinner dalam pertandingan lima set yang luar biasa. Ia kemudian gagal mendapatkan gelar setelah menghadapi Alcaraz pada pertandingan terakhir. Hasil itu kembali memperlihatkan bahwa Djokovic masih mampu bersaing di level tertinggi, meskipun dominasi yang pernah ia miliki tidak lagi sebesar beberapa tahun lalu.
Usia 39 Tahun Jadi Tantangan Terbesar Djokovic
Kemampuan tenis Djokovic hampir tidak pernah menjadi pertanyaan utama menjelang turnamen besar. Tantangan yang lebih sulit sekarang adalah menjaga kondisi tubuh selama dua pekan pertandingan best-of-five. Pada usia 39 tahun, proses pemulihan tentu berbeda dibandingkan ketika ia berada pada masa puncaknya. US Open juga terkenal sebagai turnamen yang menguras fisik karena kondisi akhir musim, cuaca New York, serta potensi pertandingan panjang hingga larut malam.
Masalah tersebut terlihat ketika Djokovic mengikuti Cincinnati Open sebagai persiapan. Ia tersingkir pada putaran kedua setelah kalah dari Thiago Agustin Tirante. Djokovic mengalami kesulitan menghadapi panas dan kelembapan serta sempat membutuhkan medical timeout. Kekalahan awal tentu bukan persiapan ideal dari sisi hasil. Namun, Djokovic justru melihat sisi positif karena ia mendapatkan tambahan waktu untuk mempersiapkan kondisi fisik dan mental sebelum US Open.
Strategi mengatur jadwal semakin penting pada tahap kariernya sekarang. Djokovic tidak lagi harus mengejar setiap turnamen ATP untuk membuktikan kualitasnya. Grand Slam menjadi prioritas utama karena satu kemenangan lagi dapat memberikan pencapaian yang belum pernah diraih pemain lain dalam sejarah nomor tunggal. Oleh sebab itu, waktu pemulihan tambahan setelah Cincinnati dapat menjadi keuntungan jika tubuhnya mampu berada dalam kondisi optimal sepanjang dua pekan di New York.
Performa Grand Slam Djokovic juga menunjukkan bahwa usia belum sepenuhnya menghilangkan daya saingnya. Ia mencapai final Australian Open 2026 dan semifinal Wimbledon. Dalam beberapa tahun terakhir, Djokovic masih berulang kali mencapai fase akhir turnamen mayor. Masalahnya, ia sekarang harus melewati pemain yang lebih muda dan memiliki kemampuan fisik luar biasa untuk mendapatkan trofi. Karena itu, efisiensi pada putaran awal menjadi faktor penting. Semakin sedikit energi yang ia keluarkan sebelum perempat final, semakin besar peluangnya bertahan menghadapi lawan elite pada fase penentuan.
Absennya Jannik Sinner Membuka Peluang Lebih Besar
Peta persaingan US Open 2026 berubah cukup signifikan karena Jannik Sinner tidak mengikuti turnamen akibat cedera. Petenis Italia tersebut menjadi salah satu penghalang terbesar Djokovic dalam beberapa tahun terakhir. Bersama Alcaraz, Sinner mendominasi turnamen Grand Slam generasi baru. Bahkan, Alcaraz dan Sinner membagi 10 dari 11 gelar Grand Slam terakhir menjelang US Open tahun ini.
Absennya Sinner tentu tidak otomatis menjadikan Djokovic favorit utama. Namun, satu rival yang secara konsisten mampu mengalahkannya pada turnamen besar kini tidak berada dalam undian. Kondisi Carlos Alcaraz juga menjadi tanda tanya. Juara bertahan tersebut baru kembali ke kompetisi Grand Slam setelah cedera pergelangan tangan membuatnya melewatkan French Open dan Wimbledon. Alcaraz tetap menjadi salah satu pemain paling berbahaya, tetapi belum ada kepastian apakah ia langsung mampu mempertahankan level permainan terbaik selama dua pekan penuh.
Alexander Zverev justru muncul sebagai salah satu ancaman terbesar. Petenis Jerman tersebut membawa kepercayaan diri tinggi setelah memenangkan French Open dan mencapai final Wimbledon. Ia juga menempati bagian atas undian, sementara Djokovic dan Alcaraz berada pada bagian bawah. Struktur tersebut membuat Djokovic tidak mungkin menghadapi Zverev sebelum final. Namun, perjalanan menuju pertandingan terakhir tetap penuh tantangan.
Pemain Amerika juga tidak boleh diabaikan. Ben Shelton datang dengan momentum setelah menjuarai Canadian Open, sementara Taylor Fritz dan Frances Tiafoe membawa ambisi mengakhiri penantian panjang Amerika Serikat untuk memiliki juara tunggal putra Grand Slam. Andy Roddick masih menjadi petenis putra Amerika terakhir yang menjuarai US Open ketika ia melakukannya pada 2003. Dukungan publik New York dapat memberikan energi tambahan jika salah satu pemain tuan rumah mampu melaju jauh.
Mariano Navone Jadi Ujian Pertama Djokovic
Perjalanan Djokovic menuju kemungkinan gelar ke-25 dimulai dengan menghadapi Mariano Navone. Petenis Argentina tersebut menjadi lawan Djokovic pada putaran pertama dan pertandingan dijadwalkan dalam sesi malam di Arthur Ashe Stadium. Bagi Djokovic, pertandingan pembuka memiliki kepentingan lebih besar daripada sekadar memastikan tiket ke putaran kedua. Ia perlu mendapatkan ritme pertandingan setelah persiapan di Cincinnati berakhir jauh lebih cepat dari rencana.
Undian Djokovic juga menyimpan beberapa kemungkinan pertandingan menarik. Jika mampu melewati Navone, ia berpotensi bertemu Stan Wawrinka atau Matteo Berrettini pada putaran kedua. Nama Wawrinka tentu membawa sejarah tersendiri karena keduanya pernah menjalani sejumlah duel besar di Grand Slam. Berrettini juga memiliki kekuatan servis dan forehand yang dapat membuat pertandingan lapangan keras menjadi berbahaya. Karena itu, Djokovic tidak memiliki banyak ruang untuk memulai turnamen secara lambat.
Pada bagian undian yang sama terdapat sejumlah nama berpengalaman, termasuk Daniil Medvedev. Sementara itu, Alcaraz juga berada di bagian bawah dan membuka turnamennya melawan Roman Safiullin. Struktur undian memungkinkan Djokovic bertemu Alcaraz pada semifinal apabila keduanya mampu melewati perjalanan masing-masing. Pertemuan tersebut tentu akan menjadi salah satu pertandingan terbesar turnamen, terutama karena Alcaraz telah menjadi bagian penting dari tantangan generasi baru terhadap Djokovic.
Meski demikian, Djokovic hampir selalu menghindari melihat terlalu jauh ke depan pada turnamen Grand Slam. Pendekatan pertandingan demi pertandingan semakin penting pada usia sekarang. Ia perlu menjaga tubuh, menghindari duel panjang pada putaran awal, dan memastikan servis bekerja secara efektif. Jika mampu melakukan itu, pengalaman menghadapi tekanan pada pekan kedua dapat kembali menjadi senjata yang sulit ditandingi.
US Open 2026 Bisa Menjadi Momen Sejarah Novak Djokovic
US Open kali ini menghadirkan situasi yang mungkin tidak sering muncul lagi dalam karier Djokovic. Ia berusia 39 tahun dan belum memenangkan Grand Slam sejak 2023. Namun, peluang untuk meraih gelar ke-25 tetap nyata. Sinner absen, kondisi Alcaraz setelah cedera masih menjadi pertanyaan, sedangkan Djokovic sudah menunjukkan pada Australian Open dan Wimbledon bahwa ia masih mampu bertahan hingga fase akhir Grand Slam.
Pertanyaan terbesar bukan lagi apakah Djokovic memiliki kualitas untuk mengalahkan pemain terbaik. Ia sudah berkali-kali membuktikannya. Tantangannya adalah apakah tubuhnya mampu memberikan level permainan tersebut selama tujuh pertandingan best-of-five dalam rentang dua pekan. Satu pertandingan panjang dapat memengaruhi pemulihan menjelang ronde berikutnya, sementara lawan yang lebih muda memiliki keuntungan dari sisi fisik.
Namun, faktor pengalaman tetap berada di pihak Djokovic. Tidak ada pemain aktif yang memiliki pengetahuan lebih besar mengenai cara memenangkan Grand Slam. Ia sudah mengalami final, comeback, pertandingan lima set, tekanan publik, hingga duel melawan beberapa generasi berbeda. Kemampuan mengelola momen-momen tersebut membuatnya tetap menjadi ancaman meskipun tidak lagi memasuki turnamen sebagai unggulan pertama.
US Open 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar Grand Slam terakhir musim ini bagi Djokovic. Flushing Meadows menjadi tempat gelar mayor terakhirnya pada 2023 dan sekarang memberikan kesempatan lain untuk menulis sejarah. Satu trofi akan membawa koleksinya menjadi 25 Grand Slam tunggal dan melewati Margaret Court dalam daftar sepanjang masa.
Perjalanannya baru dimulai melawan Mariano Navone. Setelah itu, tantangan akan terus meningkat menuju pekan kedua. Tidak ada jaminan Djokovic akan mencapai final, apalagi menjadi juara. Namun, selama ia masih mampu berdiri di Arthur Ashe Stadium dan bersaing dengan pemain terbaik dunia, perburuan Grand Slam ke-25 belum berakhir. Mulai 30 Agustus 2026, New York kembali menjadi panggung bagi Novak Djokovic untuk mengejar satu angka yang selama tiga tahun terakhir terus menjauh darinya: 25.





